Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Maaf

Manusia punya salah, demikan juga diriku Manusia tak sempurna, demikian juga diriku Manusia punya kelemahan, demikian juga diriku Diriku manusia sehingga aku ingin minta maaf Atas kesalahan-kesalahan yang ku sengaja maupun yang tidak Kepada diri kalian, sahabatku Kepada diri kalian, orang didekatku Kepada semua, manusia di bumi ini.

Ombak Pantai

Debur ombak berlari berkejar-kejaran Di bawah langit biru yang tak lagi biru Tertutup awan kelabu Meskipun begitu kau tetap menawan Membuat mata tak bosan memandang Ku bermain, ku berlari Bersama teman-temanku disini Untuk menikmati hari Membuang duka hati. Parangtritis, 8 Januari 2012

Rindu Jogja

Aku hadir Aku datang menghampirimu Kamu diam Kamu buat seakan hatiku melayang Bagai elang menyambar ikan Jogja, aku rindu padamu Setelah lama tak bertemu. Yogyakarta, 8 Januari 2012 Catatan : Puisi itu saya tulis ketika saya kemarin tur dengan teman-teman karang taruna di kampungku. Saya tulis ketika naik bus melewati kota Yogyakarta.

Maafkan Aku Ibu

Berjalan dengan menggendong karung di punggung Yang berisikan rumput dari sawah Untuk pakan sapi ternaknya Demi aku buah hatimu Setiap hari kau lakukan Meskipun panas dan hujan Semua itu tak kau pedulikan Agar aku tetap bisa makan Walaupun ragamu terasa lelah Engkau tetap berjalan menempuh arah Terus membanting tulan di sawah Agar aku bisa sekolah Walaupun badan berpeluh keringat Engkau tetap bekerja dengan giat Tak peduli panas matahari menyengat Engkau masih tetap bersemangat Betapa beratnya jalan yang kau tempuh Engkau tetap tak pernah mengeluh Tak akan pernah berhenti berjuang Tak akan hilang rasa kasih sayang Engkau dengan tulus mendidik aku Senantiasa memberikan nasehat-nasehat yang baik Mengajarkan aku bersikap bijaksana Agar aku menjadi anak berguna Ibu, lihatlah aku Aku yang beranjak dewasa ini Masih tetap menambah bebanmu Masih tetap menggantungkan hidupmu Engkau dengan sungguh-sungguh menasehatiku Tetapi kadang aku tak mematuhimu Tak memp...

Puisi W.S. Rendra

Orang-Orang Miskin Oleh : W.S. Rendra Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan. Angin membawa bau baju mereka. Rambut mereka melekat di bulan purnama. Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah jalan raya. Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa. Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya. Tak bisa kamu abaikan. Bila kamu remehkan mereka, di jalan kamu akan diburu bayangan. Tidurmu akan penuh igauan, dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka. Jangan kamu bilang negara ini kaya karena orang-orang berkembang di kota dan di desa. Jangan kamu bilang dirimu kaya bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya. Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu. Dan perlu diusulkan agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda. Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa. Orang-orang miskin di jalan masuk ke dalam tidur mal...